Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan

1 Dinasti Di Bumi Pertiwi

     
Sebuah kelender melekat di dinding kamar. Beberapa kursi dan sebuah meja tergeletak di sudut ruangan. Seorang pemuda sedang berdiri di hadapan jendela. Menatap langit yang begitu indah dan mulai terbawa arus khayalan. Pemuda ini lulusan dari Universitas islam negeri alauddin makassar dengan jurusan ilmu politik. Lelaki berumur 25 tahun ini mempunyai semangat patriotisme. Dia ingin membangun Sulawesi selatan menjadi lebih baik. Matanya mulai berkaca-kaca melihat indonesia yang sedang di landah korupsi dalam perjalanan khayalanya. Ingin rasanya menginjak-injak para koruptor sampai mati. Mereka tidak melihat para pengamen yang ada di Mol panakukang dan nasional.
Seorang pembantu sedang berjalan menuju ruangan si pemuda itu dengan membawa makanan ringan.
“Tok-tok, tuan muda apakah saya bisa masuk?.” Kata pembantu itu di balik pintu.
“Masuk aja, nda di kunci ji.” Pemuda itu  segera mengusapkan matanya dan berlalu menuju pintu.
“Ini ada kue manis dari pinrang.”  Pembantu itu berkata sambil membuka pintu.
“Siapa yang membawanya?”
“Bapak” bertepatan dengan meletakkan kue di sebuah meja.
“Buat apa Ayahku dari pinrang?”
“Yang saya dengar dari Ibu. Bapak pergi sosialisasi di pinrang.”
“Sekarang Ayahku ada di mana?” melangkahkan kakinya menuju jendela.
“Bapak ada di kamar sedang tidur. Saya keluar dulu mau memasak makan siang.” Perlahan-lahan mundur menuju pintu.
“Masak yang enak ya.” sambil tersenyum lebar kepada pembantu itu.
Pemuda itu tersenyum melihat pembantunya bekerja keras demi keluarganya. Biasa pembantunya sendiri di rumah dan dia sudah di anggap keluarganya sendiri. Pembantunya dulu berstatus pengamen di jalanan. Pemuda mulai itu terharu mengingat suasana saat pembantu itu di terima kerja di sini.  
***
Di dalam kamar yang begitu luas seperti ruangan tamu. Setangkai bunga dengan pas bunganya seakan-akan hidup di atas meja. Sebuah Ac terletak di atas jendela dengan suhu 15 derajat celcius. Seorang lelaki paru bayah dan beruban sedang membaca buku politik di atas kasur. Dia adalah seorang pemimpin di kota makassar. Dia yang mengatur semua pegawai negeri sipil yang ada di kota ini. Dua periode ada di dalam dirinya dan tidak bisa lagi menjabat lebih dari dua kali. Dia berharap kepada anaknya yang sudah bergelar S.sos menjadi kaya dirinya kelak. Tahun depan sudah pemilihan kepala daerah. Dia ingin setapet kepemimpinannya jatuh di tangan anaknya. Dia sudah berusaha dengan mengundang camat-camat  di rumahnya minggu lalu. Dan mempengaruhi semua para pemimpin kecil itu di setiap kecamatan. Matanya bergerak gerik melihat tulisan dan membacanya dalam hati. Seorang wanita cantik dan sedikit beruban sedang menuju ke kamar untuk memberikan kue kepada suaminya.
“Serius amat sih membaca bukunya.” Sedang mendekati suaminya yang lagi serius membaca.
“Oh kamu sayang, bawa apa ituu?” sambil tersenyum kepada istrinya.
“Bawa kue untuk cintaku yang tampan.” Mekarlah bunga pipinya terhadap suaminya.
“Demi kamu, kue ini pasti habis.”
“Masa.” Tersenyum.
“Ya iyalah, kamu kan cinta terakhirku sampai mati.”
“so sweet.”  Dengan senyumannya  beserta pipihnya berwarna ping tanda malu sama suaminya.
“Yang, saya mau bercerita.”  Perkataannya menghentikan senyuman istrinya.
“Cerita apa? Serius.
“Tahun depan kan saya sudah berhenti menjabat sebagai walikota Makassar.”
“Terus.”
“Saya ingin anak kita yang pertama jadi penerus saya tahun depan.”
“Tapi apakah Rio punya suara di Makassar?”
“Minggu lalu saya sudah bicarakan sama camat-camat saya.  Dan saya beritau mereka. Jika mereka masih mau jadi camat. Mereka harus dukung anak saya tahun depan. Dan mereka setuju semua.”
“Tapi apakah Rio mau?”
“Nanti saya akan bicarakan sama Rio.”
“Rio sekarang ada di kamarnya sedang istirihat.”
“Saya akan segera kesana.” Melangkahkan kaki keluar  dan menuju ke kamar buah hatinya.”
Seorang leleki beruban itu sedang menuju ke kamar buah hatinya dengan harapan anaknya mau jadi pemimpin tahun depan. 
***
Rio sedang berdiri di dekat jendela sambil memakan kue manis itu. Dia tersenyum kecil melihat burung  yang sedang bertengker di pohon jambu air dekat kamarnya. Rio menutup matanya perlahan-lahan dan mendengarkan suara burung pipit yang sedang bernyanyi. Dia menghayati nyanyian burung itu sampai kelubuk hatinya. Sekan-akan dirinya itu seperti burung sedang bebas terbang di langit. Rio mulai mengangkat kedua tangannya seperti burung sedang mengudara di angkasa biru perlahan demi perlahan. Ketika Rio sedang berkhayalan seperti burung, tiba-tiba muncul seorang lelaki berstatus Ayahnya.
“Rio sedang apa kamu?” kata Ayahnya.
“Aduh.” Terkaget oleh suara Ayahnya.
“Apa yang kamu lakukan nak?”
“Saya lagi meniru burung pipit terbang Ayah.”
“Oooh.”
“Ada apa Ayah datang ke kamar saya dengan wajah serius begitu?”
“Saya mau cerita tentang masa depan mu nanti.”
“Kok ayah yang menentukan masa depanku.”
“Karena Ayah mau yang terbaik untumu.”
“Hehehehe.”
“Kok malah ketawa.”
“Tidak.”
“Begini, apakah kamu ingin jadi pemimpin?”
“Ya iyalah, saya mau pemimpin rumah tangga dan pemimpin anak-anakku kelak.”
“Bukan itu maksudku
“Jadi maksud Ayah apa? Dengan wajah galau terhadap  Ayahnya.
“Saya ingin kamu jadi penerus Ayah tahun depan. Gimana?”
“Saya pikir-pikir dulu.” Langkah kakinya menuju jendela.”
“Kenapa begitu?”
“Jangan dulu,  apakah saya punya suara di makassar?. Dan saya kan baru tamat kuliah.” Sambil membalikkan badannya dan bergerak kehadapan Ayahnya.
“Kamu sudah banyak suara.”
“Gimana caranya?”
“Saya sudah mengundang camat-camat saya minggu lalu dan mereka setuju.”
“Maksud Ayah.”
“Mereka sudah saya suruh untuk mencari suara lewat kecamatan dan mempengaruhi rakyat yang ada di kelurahan dan juga apabila kamu telah menjadi pemimpin. Maka  camat-camatku akan jadi camat-camatmu tahun depan.”
“Apaa? Tapi itu kan curang .”
“Ini politik anak. Dunia ini hanya untuk mencari kekuasaan.”
“Tapi apakah saya cocok menjadi seorang walikota di kota daeng ini?” serius
“Kamu itu cocok menjadi pemimpin. Karena sebagian sifatku ada pada dirimu.”
“Hehehe.”
“Ketawa lagi, gimana?”
“Saya ingin merenungkan dulu. Besok saya beritau Ayah.”
“Iya saya tunggu nak. Saya berharap kamu mau. Karena semua ini untuk kebaikanmu dengan calon istrimu kedepannya. Btw bicara tentang calon istri. Apakah kamu sudah punya calon?”
“Sudah.”
“Siapa bede?
“Rahasia.” Dengan mengankat tangannya dan menggerakan jari telunjuknya seperti pembersih kaca mobil depan.”
“Hahahaha saya pergi dulu. Ngantuk mau Tidur siang hehehe.” Ayahnya segera berlalu menuju ke kamarnya.
Pemuda itu menghirup udara dan melepaskan lewat mulut. Dia beranjak perlahan-lahan bergerak ke depan jendela. Melihat langit bagaikan merindukan laut biru di angkasa. Dia mulai merenungkan sebuah perkataan Ayahnya. Di dalam pikirannya Dia memikirkan. Jika dia menjadi Walikota Makassar. Sebagian masyarakat atau peneliti akan mengganggap dia politik dinasti, tapi jika Dia tidak jadi seorang khalifa di kota daeng. Para pengamen akan terus bertambah di samping-samping Mol Panakukang. Sang pemuda galau dengan kehidupan perkataan Ayahnya. Di saat pemuda sedang merenungkan, tiba-tiba muncul seorang kakek berpakaian robek dan celana yang  kotor beserta salah satu kakinya hilang lewat di depan rumahnya. Matanya mulai berkaca-kaca melihat sang kakek merangka memakai gerobak bagaikan suster ngesot. Tak tahan dengan usaha si kakek itu. Di sudut matanya mulai keluar butiran-butiran surga secara perlahan-lahan. Rasa bersalah muncul di lubuk hatinya. Karena Ayahnya selama ini tidak memperhatikan rakyat kecil. Pemuda itu mengusapkan air surga di wajahnya tanda ingin mengubah kota daeng menjadi kota yang mengerti rakyat. Semangat patriotisme dan nasionalisme mulai berada di dalam hati kecilnya. Tidak  terpikir lagi dengan perkatan orang lain dan dia ingin menjadi seorang pemimpin.

0 Lunturnya Ideologi Negara



Ahirnya sampai pada waktunya saya kembali bisa memposting di blog yang apa adanya ini, sujud sukur saya persembahkan kepada yang maha kuasa yang telah memberikan waktu kepada saya untuk kembali berjumba dengan sahabat setia Amburadul Republik ini. Sebuah peristiwa sangat bersejarah terjadi di negara tercinta ini. Pada saat itu, Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno memberikan pidato spontannya yang berbunyi:

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.

Pancasila sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Hal ini kembali ditegaskan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara jo Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002. Selain itu Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan bersama para Pendiri Bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia.

Akan tetapi dibalik itu terdapat sejarah panjang perumusan sila-sila Pancasila dalam perjalanan ketata negaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan tiada ahir baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila. 

Artikel ini sedapat mungkin menghindari polemik dan kontroversi tersebut. Oleh karena itu artikel ini lebih bersifat suatu “perbandingan” (bukan “pertandingan gan..”) antara rumusan yang satu dengan rumusan lain yang terdapat dalam dokumen yang berbeda. Penempatan rumusan yang lebih awal tidak mengurangi kedudukan rumusan yang lebih akhir.

Dari kronik sejarah setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang pernah muncul. Antara rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Muh Yamin, Sukarno, Piagam Jakarta, Hasil BPUPKI, Hasil PPKI, Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), Versi Berbeda, dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.

Namun terlepas dari semua itu, dalam sejarah 67 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sepertinya ideologi Pancasila semakin lama hanya akan dianggap sebagai “Logo Bangsa” dan tidak memiliki makna apa-apa. Lima sila didalamnya yang seharusnya dapat menjadi “panduan dasar” bagi para penguasa negeri ini untuk menentukan masa depan bangsa kedepan malah sangat jarang sekali dilantangkan. Bahkan, mungkin ada diantara para pejabat negara ini yang tidak hafal dengan butir-butir Pancasila. Sungguh ironis…

Sekedar ingin mengutip salah satu ucapan dari salah satu sejarahwan kita yaitu Bapak Anhar Gonggong bahwa perbedaan generasi yang membuat fenomena ini terjadi. Setelah Indonesia merdeka, generasi setelahnya dapat dianggap sebagai GENERASI PENIKMAT KEMERDEKAAN, beda dengan generasi sebelumnya yang termasuk dalam GENERASI PEREBUT KEMERDEKAAN. Mungkin karena sifatnya hanya “menikmati kemerdekaan” maka kita tidak memiliki rasa nasionalisme dan kebangsaan secara optimal sehingga sejak Indonesia Merdeka hingga detik ini pemahaman mengenai lambang dan ideologi negara kita terus mengalami kemerosotan.

Banyak bermunculannya kasus korupsi yang melibatkan sebagian besar penguasa negeri ini telah menunjukkan secara JELAS bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati RAKYAT dan PANCASILA. Coba kita baca dari Sila Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat, dan Kelima, mana diantara kelima sila tersebut yang tidak dilanggar oleh PARA KORUPTOR tersebut. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan yang mereka lakukan tersebut SUDAH PASTI DILARANG AGAMA (MELANGGAR SILA PERTAMA), MEMBUAT RAKYAT KECIL TERKUCILKAN (MELANGGAR SILA KEDUA), MEMISAHKAN DIRI DARI RAKYATNYA (MELANGGAR SILA KETIGA), LEBIH MEMENTINGKAN KEPENTINGAN SENDIRI DIBANDING ORANG LAIN (MELANGGAR SILA KEEMPAT), DAN TIDAK BERSIKAP ADIL (MELANGGAR SILA KELIMA). Benar-benar kelihatan kan kesimpulannya apa???.

Disadari atau tidak, jika fenomena ini terus dibiarkan tanpa adanya aksi tegas yang nyata maka tidak perlu diragukan lagi dalam beberapa waktu kedepan INDONESIA AKAN MENJADI BAGIAN DARI SEJARAH DUNIA. Efek yang ditimbulkan dari tindakan-tindakan para KORUPTOR tersebut jelas-jelas telah merusak sendi-sendi pondasi kebangsaan yang telah terbentuk lama. Tetap dibutuhkan satu gebrakan yang benar-benar dapat membuat negara ini bersih dari segala tindak tanduk oknum pejabat yang tidak bertanggungjawab. Dan menurut anda apa yang terbaik dilakukan untuk menghukum para KORUPTOR???, mungkin jawaban kita akan sama. 

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila
http://id.wikipedia.org/wiki/Rumusan-rumusan_Pancasila
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Coat_of_Arms_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svg&filetimestamp=20120226235410

4 Faktor Indonesia Terus Tertinggal


Kenapa???.. Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah di suntik dengan lagu2 yang
kurang bermutu & selalu terkandung banyak kesalahan di dalamnya, mengajarkan kerancuan, Dan menurunkan motivasi, bahkan menghilangkan motivasi.
Inilah bukti-bukti konkritnya :

Lagu pertama:
"Balonku Ada 5… Rupa-rupa warnanya… Merah, kuning, kelabu…..Merah muda Dan biru …
Meletus balon hijau , dorrrr!!!"
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna hijau?
Jadi jumlah balon sebenarnya Ada 6, bukan 5 !!!

Lagu kedua:
"Aku seorang kapiten… Mempunyai pedang panjang…
Kalo berjalan prok..prok.. Prok… Aku seorang kapiten!"
silahkan perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait
Kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : "mempunyai sepatu Baja (bukan pedang panjang).. Kalo berjalan prok..prok. . Prok.." nah, itu baru klop!
Jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :
"mempunyai pedang panjang… Kalo berjalan ndul…gondal. .gandul.. Atau srek.. Srek.. Srek.." itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya!

Lagu ketiga:
"Bangun tidur Ku terus mandi.. Tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. Membersihkan tempat tidurku.."
Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.
Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa termanage secara baik dalam menyelesaikan tugasnya Dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu
Dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!
Bahkan anak tersebut manja. Karena dalam lagu itu setelah mandi langsung minta tolong sama ibunya

Lagu keempat:
"Naik-naik ke puncak gunung.. Tinggi.. Tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. Banyak pohon
Cemara..2X"
Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat Dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung Dan kagum pada keindahan alam saja. Tidak terfikirkan bagaimana cara memanage!

Lagu kelima:
"Naik kereta api tut..tut..tut. . . Siapa hendak turut ke Bandung .. Sby.. Bolehlah naik dengan percuma..ayo kawanku lekas naik.. Keretaku tak berhenti lama"
Yang seperti ini yang parah! Mengajarkan anak-anak kalo sudah Dewasa maunya gratis melulu.
Pantesan PJKA rugi terus! Terutama jalur Jakarta-Malang Dan Jakarta-Surabaya!

Lagu keenam:
"Di pucuk pohon cempaka.. Burung kutilang berbunyi.. Bersiul2 sepanjang Hari dg tak Jemu2..mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. Li..li.."
Ini juga menyesatkan Dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg Sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. Cuit!
Kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak2 dgn presenter Agnes Monica waktu dia masih kecil adalah tra la la tri li li!), bukan burung!

Lagu ketujuh:
"pok ami ami.. Belalang kupu2.. Siang makan nasi, kalo malam minum Susu.."
Ini jelas lagu dewasa Dan tidak konsumsi anak2!
Karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak Kecil.
Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya Minum susu!
Dan untuk anak kecil yang makan nasi dan minum susu tidak akan mendukung perkembangan pertumbuhannya.

Lagu kedelapan
"Nina bobo Nina bobo oh Nina bobo… Kalau tidak bobo digigit nyamuk"
Menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 Indonesia diajak tidur dgn lagu yg penuh nada mengancam. Dan justru waktu tidur Kita sering digigit nyamuk

Lagu kesembilan:
"Bintang kecil dilangit yg biru…"
Ini menunjuk pada sesuatu yang tidak pada kenyataan Dan membingungkan
Bintang khan adanya malem, lah kalo malem kok warna langitnya biru?

Lagu Kesepuluh:
"Ibu Kita Kartini…harum namanya"
Mana yang benar… Tidak pernah memperoleh penjelasan Ibu Kita itu namanya Kartini atau Harum?

Lagu kesebelas:
"Pada Hari minggu kuturut ayah ke kota …naik delman istimewa kududuk di muka"
Apakah memang anak harus duduk di depan? Seperti Kita lihat mereka yang menggunakan sepeda motor sekarang ini…. Anak selalu di depan

Lagu kedua belas
"Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun Kita…"
Kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang MO bikin sumur?
Mungkin yang inilah yang membuat Kita-Kita ini semua sekarang menjadi orang yang tidak bisa berpikir jernih.

Warning: Jika ada kekurangan mohon di maklumi ya Gan,,,, :)

2 Republik Amburadul


DEMOKRASI KAMBING 
"Demokrasi bisa membuat serigala menjadi pemimpin bagi sekumpulan kambing, karena prinsip dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat bukan kedaulatan ilmu (Anonim).Maka jangan heran jika kualitas pendidikan di negara ini tak beranjak maju dengan sesungguhnya. penguasa negeri ini takkan pernah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti amanah UUD. Karena jika rakyat ‘cerdas’, penguasa srigala takkan dipilih lagi untuk berkuasa. Pemilih cerdas berbahaya bagi kelangsungan dinasti. "

Kubaca editorial koran oposisi itu sambil menyeruput kopi di warkop darmo. Dari kejauhan aku mendengar percakapan seorang anak SD dengan emaknya. Sepertinya si anak sedang malas berangkat ke sekolah.

Si Emak dengan suara agak membentak berkata: "Ayo nak berangkat sekolah, biar kamu pinter"

Anak SD yang masih cadel menjawab: "Emoh mak. Nanti ciapa yang milih anak sligala beltampang kambing gibas jadi pletiden kalo semuanya pada pintel mak"...

Si Emak menjawab: "Oh iya nak. Benar juga kamu nak. Mari kita sukseskan program jangka panjang dinasti. Lagian kan, kalo emak boleh mengutip kata2 Jeffrey Winter bahwa sejak beliau naik, isi menjadi tak penting, yang penting adalah bentuk. Nah! Nanti nak, kamu kalo sudah gede, dandan yang klimis yah. biar banyak yang ketipu".

Dengan riang, si anak berkata: "Oke mak. Emakku emang mangstab!!!!!"

"Hah?? Mangstab kamu bilang. Kamu ngaskus juga ya nak?" Emaknya bertanya dengan penasaran.

"Iya gan, ane kaskuser juga. Mak aku pergi main dulu,, mau update! Assalamualaikum" jawab si anak cepat.


Emak: "Waalaikumsalam gan,,,,". ( Republik Amburadul beneran nich :)


Tak terasa, ampas kopi dari cangkirku pun terminum. Bruuuuuuuuuuuuuuufffftt.....

Sumber : Anonim



Republik Amburadul

Oleh Ibrahim/viruzlegowo pada .

Maka jangan heran jika kualitas pendidikan di negara ini tak beranjak maju dengan sesungguhnya. penguasa negeri ini takkan pernah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti amanah UUD. Karena jika rakyat ‘cerdas’, penguasa srigala takkan dipilih lagi untuk berkuasa. Pemilih cerdas berbahaya bagi kelangsungan dinasti.

Demokrasi bisa membuat serigala menjadi pemimpin bagi sekumpulan kambing, karena prinsip dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat bukan kedaulatan ilmu.

Rating: 2.5

4 Manusia Lemming

Kalian tau sama yang namanya Mahluk Lemming??.. Amburadul jelasin dikit ya apa ituj mahluk Lemming,, Lemming adalah sejenis hewan pengerat seperti marmut. Yang menarik dari hewan ini dan telah diteliti adalah karakternya yang "ngikut saja", Lemming yang satu akan mengikuti yang lainnya bahkan sampai ke kematian.

Hewan Lemming akan melakukan migrasi dalam periode hidupnya. Dalam perjalanan migrasi tersebut Lemming akan berjalan mengikuti Lemming terdepan. Ketika Lemming yang jalan terdepan terjatuh ke dalam jurang atau ke dalam sungai yang sangat deras maka Lemming-lemming di belakangnya akan mengikuti terjatuh. what the f*ck!!!.

Karakter lemming yang menarik dari hewan ini lantas dikenal menjadi metafora yang disebut 'efek manusia Lemming', yaitu suatu fenomena bagaimana orang-orang mengikuti begitu saja tanpa mempertanyakan suatu pendapat  yang populer yang beredar di tengah masyarakat di mana pendapat tersebut bisa saja berpotensi menjerumuskan diri mereka ke dalam suatu kebinasaan atau paling minimal kesesatan berpikir.

Dalam kehidupan, informasi dan kejadian seakan rangkaian-rangkaian fakta kecil yang terasa tak bermakna. Tetapi ketika dikaji secara komprehensif, maka rangkaian-rangakian fakta yang kecil dan terasa independen tersebut akan menjadi sebuah simpul yang mencerahkan.

Namun jika sebuah komunitas sudah total terpengaruh oleh "hipnotis" akan "Kenyata'an palsu" yang dipaksakan oleh mereka yang berkepentingan dan dianggap memiliki otoritas untuk berpendapat, maka efek / manusia Lemming susah diubah.

Efek Lemming merupakan mainan menarik bagi industri iklan, politik dan berbagai aspek kehidupan.

Contoh : sederhana bagaimana efek / manusia Lemming berjalan adalah saat gelang Power Balance sedang ngetrend. Artis, public figure, ABG dan banyak lapisan masyarakat memakai gelang tersebut. Tanpa pernah menyempatkan diri bertanya-tanya, benarkah apa yang disampaikan dalam iklan produk tersebut? Akhir-akhir baru terungkap tak ada efek signifikan terhadap tubuh akibat memakai gelang power balance. Contoh lain misalnya bagaimana ABG alay labil begitu terhipnotis dengan es krim M*gnum.
Contoh lain lagi yang agak sedikit berat adalah bagaimana percayanya sebagian besar warga Amerika Serikat (AS) bahwa Islam itu merupakan agama yang jahat, hanya dikarenakan isu dan berita populer yang dipelintir bahwa Islam adalah agama teror. Tanpa mencoba mencari fakta sendiri dan merangkai kejadian-kejadian di baliknya.

Atau bagaimana pemerintahan suatu negara membohongi rakyatnya dengan mengumunkan dan secara terus-menerus memborbardir pikiran rakyat dengan angka-angka statistik yang seolah mengagumkan tentang kenaikan kesejahteraan, penurunan jumlah rakyat miskin dan lain-lain padahal itu semua adalah kebohongan. Sampai pikiran rakyat yang tak memanfaatkan pikirannya tersebut percaya semua yang diungkap dan dijejalkan ke pikirannya, lalu ketika ada lapisan masyarakat yang tak terkena efek / manusia Lemming mulai mengajukan fakta kebenaran yang sebenarnya, maka kebenaran tersebut tak lagi dianggap, dan akan disebut dengan mudah disemati label "barisan sakit hati". Hehehehe... Gampang sekali!.

Manusia Lemming ini muncul karena tidak terbiasanya kita untuk berfikir secara mandiri. Ketika manusia Lemming sudah berjalan maka meskipun akhirnya kebenaran yang sebenarnya muncul atau dimunculkan, hal itu tidak bisa menggoyahkan anggapan yang telah terbentuk sebelumnya. Kecenderungannya adalah mereka yang telah terkena efek / manusia Lemming akan tetap menyangkal kebenaran yang sebenarnya, walaupun mereka telah melihat kebenaran tersebut dengan mata kepala sendiri.

Kalau dalam istilah bahasa Sunda, manusia Lemming ini disebut "tuturut munding" (ngikut-ngikut aja seperti kerbau). Masyarakat Sunda menganalogikan orang-orang yang terkena efek Lemming dengan seekor kerbau, yang mengikut saja ketika tambanga yang mengikatnya ditarik oleh pemiliknya. Bahkan ketika dia dibawa ke tukang jagal.

Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan otaknya (Henry Ford).

0 Indonesia VS Piala Citra


Tahukah gambar apa di Samping?
Piala!. Ya tepat. Sebuah Piala, tepatnya Piala Citra

Inilah piala yang diberikan dalam Festival Film Indonesia (FFI). Ajang ini adalah ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman dan akting di Indonesia yang mulai diselenggarakan sejak tahun 1955.

Kata Citra sendiri yang berarti 'bayangan' atau 'image'. Citra kemudian dijadikan nama piala sebagai simbol supremasi prestasi tertinggi untuk bidang perfilman kualitas film, berakting dan lain-lain.

Admin amburadul sempat berfikir??...

Apakah Piala ini yang mau dikejar oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono?.  Jika tidak. Mengapa pemerintahan saat ini lebih mementingkan image daripada kinerja nyata untuk memakmurkan rakyat. Padahal pemerintahan itu hal yang nyata, bukan sebuah film. Bukan sebuah akting seolah-olah.

Politik citra terasa semakin tidak relevan karena semakin banyak persoalan riil di sekitar kehidupan rakyat yang tidak tersentuh kinerja pemerintahan. Pernyataan SBY di media berbeda dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, Akan tetapi pernyata'an palsu itu terus mendapat dukungan dari manusia lemming yang telah merata di Negeri kita ini.

Masih ingat kasus-kasus dengan Malaysia selama SBY memerintah?Ambalat, penangkapan aparat oleh tentara Malaysia, dan permasalahan TKI.

SBY menjanjikan bahwa setiap bentuk yang mengganggu kedaulatan rakyat akan langsung diusir. Kenyatannya, janji itu tidak pernah dilaksanakan SBY. Bangsa besar ini seolah menjadi melempem dan ketakutan melindungi dirinya, kedaulatannya, harga dirinya yang diinjak.

Masih ingat janji SBY juga sering bicara ekonomi untuk rakyat serta agenda kesejahteraan bangsa?
Sedang faktanya nasib rakyat justru jauh dikatakan sejahtera = bohong.

Harga kebutuhan meningkat tajam.  Mayoritas rakyat Indonesia itu sejak jaman dahulu makan nasi sebagai makanan pokok, bukan tiwul atau nasi aking. Pemerintah melansir bahwa angka masyarakat miskin menurun semenjak pemerintahan di bawah SBY. Yang benar menurun? Walah.... Ternyata indikator kemiskinannya yang diturunkan. Indikator yang berlaku secara internasional tentang pendapatan harian yang disebut miskin adalah Rp. 20.000/hari, angka penurunan angka kemiskinan yang diklaim pemerintah ternyata diperoleh melalui penurunan indikator tersebut hanya menjadi Rp. 7.000/hari. Pantasan angka rakyat miskin menurun drastis? hehehehe... ternyata!.  Lalu Memperek (menteri perekonomian) mengatakan bahwa angka inflasi 6,6% yang tinggi itu hanya asumsi saja. Asumsi saja? Di lapangan mungkin sudah lebih dari 10%.

Lihatlah contoh di Trenggalek tentang harga-harga yang meningkat tajam dan kemiskinan. Akibat harga-harga kebutuhan yang semakin amburadul,, ratusan keluarga yang kebanyakan petani ladang hidupnya semakin menderita. Mereka makan tiwul. Tiwul dipilih karena murah, bisa dibeli dengan harga Rp 2.000/kg. Sedangkan beras, harganya tak terjangkau oleh mereka. Kan ada beras untuk rakyat miskin (raskin)? Warga di sana sudah melupakannya karena sejak enam bulan silam beras dari pemerintah itu tak datang lagi menghampiri mereka Liputan6.

Di Mamuju ada pasangan Kamaluddin & Suryanti di Jalan Pemuda, Binangan, Mamuju, Sulawesi Barat, mendapat durian runtuh setelah tiga hari tak makan karena kehabisan beras. Akhirnya mereka bisa makan setelah penderitaan mereka diberitakan sejumlah media. Jika tak ada beras, biasanya keluarga ini hanya mengganjal perut dengan memasak kangkung liar yang tumbuh di sekitar rumah. Liputan6

Politik citra tak memakan korban?
Jika kejadian di dua tempat itu tak mau dimasukkan sebagai korban silahkan saja. Toh korban nyawa pun kan sudah terjadi. Kalian ingat korban nyawa di Istana Negara pada saat hari pertama Lebaran??. Yang awam mungkin akan menyangka rakyat berkumpul untuk melihat presidennya. Hahay... ternyata! Lembaran dan bungkusanlah yang menyebabkan umat rakyat miskin menyemut di Istana Negara.

Sumber: Kompas

4 Proses Perumusan Pancasila

Keterlibatan Jepang dalam perang dunia ke 2 membawa sejarah baru dalam kehidupan bangsa Indonesia yang di jajah Belanda ratusan tahun lamanya. Hal ini disebabkan bersamaan dengan masuknya tentara Jepang tahun 1942 di Nusantara, maka berakhir pula suatu sistem penjajahan bangsa Eropa dan kemudian digantikan dengan penjajahan baru yang secara khusus diharapkan dapat membantu mereka yang terlibat perang.

Menjelang akhir tahun 1944 bala tentara Jepang secara terus menerus menderita kekalahan perang dari sekutu. Hal ini kemudian membawa perubahan baru bagi pemerintah Jepang di Tokyo dengan janji kemerdekaan yang di umumkan Perdana Mentri Kaiso tanggal 7 september 1944 dalam sidang istimewa Parlemen Jepang (Teikoku Gikai) ke 85. Janji tersebut kemudian diumumkan oleh Jenderal Kumakhichi Haroda tanggal 1 maret 1945 yang merencanakan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Sebagai realisasi janji tersebut pada tanggal  29 April 1945 kepala pemerintahan Jepang untuk Jawa (Gunseikan) membentuk BPUPKI dengan Anggota sebanyak 60 orang yang merupakan wakill atau mencerminkan suku/golongan yang tersebar di wilaya Indonesia. BPUPKI diketuai oleh DR Radjiman Wedyodiningrat sedangkan wakil ketua R.P Suroso dan Penjabat yang mewakili pemerintahan Jepang “Tuan Hchibangase”. Dalam melaksanakan tugasnya di bentuk beberapa panitia kecil, antara lain panitia sembilan dan panitia perancang UUD. Inilah langkah awal dalam sejarah perumusan pancasila sebagai dasar negara. Secara ringkas proses perumusan tersebut adalah sebagai berikut.


A. Mr. Muhammad Yamin, pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei  1945 menyampaikan rumus asas dan dasar degara sebagai berikut:
1.      Peri Kebangsaan
2.      Peri Kemanusiaan
3.      Peri Ketuhanan
4.      Peri Kerakyatan
5.      Kesejahteraan Rakyat.

Catatan : Setelah menyampaikan pidatonya, Mr. Muhammad Yamin menyampaikan usul tertulis naskah Rancangan Undang-Undang Dasar. Di dalam Pembukaan Rancangan UUD itu, tercantum rumusan lima asas dasar negara yang berbunyi sebagai berikut :
           1.      Ketuhanan Yang Maha Esa
           2.      Kebangsaan Persatuan Indonesia
           3.      Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
           4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan Perwakilan
           5.      Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia


B. Mr  Soepomo, pada tanggal 31 Mei 1945 antara lain dalam pidatonya menyampaikan usulan lima dasar  negara, yaitu sebagai berikut :
1.      Paham Negara Kesatuan
2.      Perhubungan Negara  dengan Agama
3.      Sistem Badan Permusyawaratan
4.      Sosialisasi Negara
5.      Hubungan antar Bangsa

Catatan : Mr. Soepomo dalam pidatonya selain memberikan rumusan tentang Pancasila, juga memberikan pemikiran tentang paham integralistik Indonesia. Hal ini tertuang di dalam salah satu pidatonya ..................................., bahwa jika kita hendak mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasar atas aliran pikiran (staatsidee) negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongan-golongannya dalam lapangan apapun.       

C. Ir. Soekarno, dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 mengusulkan rumusan dasar negara adalah sebagai berikut :
1.      Kebangsaan Indonesia
2.      Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3.      Mufakat atau demokrasi
4.      Kesejahteraan Sosial
5.      KeTuhanan yang berkebudayaan.

Catatan : Konsep dasar negara yang diajukan oleh Ir. Soekarno tersebut, dapat diperas menjadiTri Sila, yaitu : Sila Kebangsaan dan Sila Internasionalisme diperas menjadi Socio Nationalisme; Sila Mufakat atau Demokratie dan Sila Ketuahanan yang berkebudayaan. Kemudian Tri Sila tersebut dapat diperas lagi menjadi Eka Sila, yaitu Gotong Royong.               

D. Panitia Kecil pada sidang PPKI tanggal 22 Juni 1945, memberi usulan rumusan dasar negara adalah sebagai berikut :
1.      Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.      Persatuan Indonesia
4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam  permusyawaratan perwakilan
5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Catatan : Paniti kecil mempunyai tugas untuk menggolong-golongkan dan memeriksa catatan-catatan tertulis selama sidang. Rapat Panitia Kecil telah diadakan bersama-sama dengan 38 anggota BPUPKI di kantor Besar Jawa Hookookai dengan susunan sebagai berikut : Ketua      :  Ir. Soekarno Anggota  :  1) K.H.A Wachid Hasjim, 2) Mr. Muhammad Yamin, 3) Mr. A.A. Maramis, 4) M. Soetardjo Kartohadikoesoemo, 5) R. Otto Iskandar Dinata, 6) Drs. Mohammad Hatta, 7) K. Bagoes H. Hadikoesoemo. Selanjutnya, dalam sidang yang dihadiri oleh 38 orang tersebut telah membentuk lagi satu Panitia Kecil yang anggota-anggotanya terdiri dari : Drs. Mohammad Hatta, Mr. Muhammad Yamin, Mr. A. Subardjo, Mr. A.A. Maramis, Ir. Soekarno, Kiai Abdul Kahar Moezakkir, K.H.A. Wachid Hasjim, Abikusno Tjokrosujoso, dan H. Agus Salim. Panitia Kecil inilah yang sering disebut sebagai panita 9 (sembilan) yang pada akhirnya menghasilkan Piagam Jakarta (Jakarta Charter).               

E. Rumusan Akhir Pancasila yang di tetapkan tanggal 18 Agustus 1945, dalam sidang PPKI memberi rumusan Pancasila sebagai berikut :

1.      Ketuhanan Yang Maha Esa
2.      Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3.      Persatuan Indonesia
4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan
5.      Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
        
Rumusan inilah yang kemudian dijadikan dasar negara, hingga sekarang bahkan hingga akhir perjalanan Bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia bertekad bahwa Pancasila sebagai dasar negara tidak dapat dirubah oleh siapapun, termasuk oleh MPR hasil pemilu. Jika merubah dasar negara Pancasila sama dengan membubarkan negara hasil proklamasi (Tap MPRS No. XX/MPRS/1966).

             Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafah negara (dasar filsafat negara) dan ideologi negara. Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan dan mengatur penyelenggaraan negara. Konsep-konsep Pancasila tentang kehidupan bernegara yang disebut cita hukum (staatsidee), merupakan cita hukum yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila juga mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai pokok atau kaidah negara yang mendasar (fundamental norma). Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara bersifat tetap, kuat, dan tidak dapat diubah oleh siapapun, termasuk oleh MPR-DPR hasil pemilihan umum. Mengubah Pancasila berarti membubarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pancasila sebagai kaidah negara yang fundamental berarti bahwa hukum dasar tertulis (UUD), hukum tidak tertulis (konvensi), dan semua hukum atau peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara Republik Indonesia harus bersumber dan berada dibawah pokok kaidah negara yang fundamental tersebut.


A. Dasar Hukum Pancasila Sebagai Dasar Negara

Pengertian pancasila sebagai dasar negara, sesuai dengan bunyi Pembukaan UUD 1945 pada alinea keempat
”…....., maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada; Ketuhanan Yang Maha Esa; kemanusia yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Di dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut meskipun tidak tercantum kata Pancasila, namun bangsa Indonesia sudah bersepakat bahwa lima prinsip yang menjadi dasar Negara Republik Indonesia disebut Pancasila. Kesepakatan tersebut, tercantum pula dalam berbagai Ketetapan MPR-RI diantaranya sebagai berikut :

1)      Ketetapan MPR - RI No.XVIII/MPR/1998, pada pasal 1 menyebutkan bahwa “Pancasila sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara”.

2)      Ketetapan MPR No. III/MPR/2000, diantaranya menyebutkan : Sumber Hukum dasar nasional yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa; kemanusia yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

B.     Pancasila Memenuhi Syarat Sebagai Dasar Negara

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dasar negara Pancasila perlu difahami konsep, prinsip dan nilai yang terkandung di dalamnya agar dapat dengan tepat mengimplementasikannya. Namun sebaiknya perlu diyakini terlebih dahulu bahwa Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan beragam suku, agama, ras dan antar golongan yang ada.
Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan alasan sebagai berikut.

1)      Pancasila memiliki potensi menampung keadaan pluralistik masyarakat Indonesia yang beraneka ragam suku, agama, ras dan antar golongan. Pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menjamin kebebasan untuk beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Kemudian pada Sila Persatuan Indonesia, mampu mengikat keanekaragaman dalam satu kesatuan bangsa dengan tetap menghormati sifat masing-masing sepert apa adanya.

2)      Pancasila memberikan jaminan terealisasinya kehidupan yang pluralistik, denganmenjunjung tinggi dan menghargai manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan secara berkeadilan yang disesuaikan dengan kemampuan dan hasil usahanya. Hal ini ditunjukkan dengan Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

3)      Pancasila memiliki potensi menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri atas ribuan pulau sesuai dengan Sila Persatuan Indonesia.

4)      Pancasila memberikan jaminan berlangsungnya demokrasi dan hak-hak asasi manusia sesuai dengan budaya bangsa. Hal ini, selaras dengan Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

5)      Pancasila menjamin terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera sesuai dengan Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai acuan dalam mencapai tujuan tersebut.

1 Lakon Baru dalam Telenovela Century

LAGI-lagi mata kita terbelalak oleh permainan petinggi di negara ini. Setelah terungkapnya permainan mata Gayus Tambunan dengan para wajib pajak kelas kakap dan kabar jatah fee wakil rakyat, yang terbaru adalah pelanggaran kode etik Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya.

Kabar tak sedap itu terungkap di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, saat  kuasa hukum Robert Tantular, Triyanto, membeberkan bahwa Budi Mulya meminjam uang Rp1 miliar kepada kliennya pada Agustus 2008. Secara jelas, Triyanto mengatakan bahwa dana tersebut bersumber dari salah satu perusahaan Robert bernama CBI.

Budi pun telah mengakui dirinya memang meminjam dana Rp1 miliar kepada Robert. Namun, yang belum jelas duduk perkaranya adalah tujuan dari pinjaman tersebut.

Apapun alasannya, jelas pinjaman uang yang dilakukan Budi Mulya kepada Robert Tantular patut dipertanyakan. Apalagi besarannya mencapai Rp1 miliar. Lalu ada apa sebenarnya antara keduanya?

Robert Tantular dan Budi Mulya berkenalan saat Budi menjadi pejabat di Bank Export Indonesia dan Robert di Bank CIC. Tapi apakah benar pinjaman itu karena pertemanan? Pastinya lebih dari itu. Jelas pemberian utang dari Robert kepada Budi sarat dengan konflik kepentingan.

Apalagi posisi Budi sebagai pejabat BI sangat strategis, yakni Direktorat Pengelolaan Moneter dan pengelolaan devisa. Sementara Robert adalah pemegang saham Bank Century (kini bernama Bank Mutiara), yang tengah menjadi pesakitan.

Mari kita flashback. Berdasarkan catatan okezone, pada Oktober 2008, Bank Century kekeringan likuiditas. Rasio kecukupan modal Bank Century kala itu sudah minus 3,52 persen dan kebutuhan modal untuk menaikkan CAR sebesar delapan persen atau sebesar Rp632 miliar.

Hingga akhirnya BI menyuntikan dana talangan (bailout) tahap pertama 14 November 2008, sebesar Rp2,776 triliun yang kemudian diberikan secara berkala hingga totalnya mencapai Rp6,762 triliun.

Kebijakan bailout tersebut dilakukan atas dasar keputusan Menko Perekonomian yang dijabat Boediono dan Menteri Keuangan yang dijabat Sri Mulyani. Alasannya untuk memutus dampak sistemik di sektor perbankan yang memang kala itu tengah dijaga dengan baik dari amukan krisis subprime mortgage Amerika Serikat.

Artinya dana bailout yang digulirkan hanya selang dua bulan sebelum Budi mencairkan pinjaman. Bagaimana pun kronologisnya,  nuansa conflict of interest sangat kental. Sebagai pejabat yang menduduki posisi strategis, seharusnya Budi Mulya bisa memosisikan diri, sehingga tidak terlena dengan kenyamanan jabatan.
Kini semua orang tertuju pada Budi Mulya. Dia menjadi lakon pada babak baru dalam mengungkapkan kasus Bank Century .

Sumber : OkeZone.com

4 Pahlawan Yang Terlupakan

  Wajahnya masih memancarkan semangat juang meski ia kini berusia senja. Jalannya juga masih gagah menunjukkan ia adalah prajurit sejati. Di pelupuk matanya ada selotape yang menempel sampai ke alis matanya yang putih untuk menahan agar matanya tetap terbuka. 

Saat berbicara, suaranya masih lantang walau agak gemetar. Tak banyak orang mengetahui siapa ia. Ternyata ia adalah Ilyas Karim, sang pengerek bendera pusaka saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. 

Siapa nyangka pengalaman Ilyas Karim mengenai detik-detik yang mendebarkan 66 tahun lalu itu ia kisahkan di acara Democrazy di Metro TV pada Minggu (14/8/2011). Acara parodi politik khas anak-anak muda itu ternyata juga dapat menggugah hati kita agar, mengutip ucapan Bung Karno,“Jangan sekali- kali melupakan sejarah.” 

Secara gamblang Ilyas mengisahkan bagaimana ia bisa menjadi pengerek pertama bendera pusaka yang dijahit tangan ibu negara kita yang pertama, Fatmawati. Pada malam 16 Agustus 1945 para pemuda yang bermarkas di Menteng Raya 31, Gedung Juang sekarang, diberi tahu oleh pimpinan mereka, Chaerul Saleh, agar pagi hari siap-siap berangkat ke rumah Ir Soekarno di Pegangsaan Timur 56. 

Jalan dari Menteng ke Pegangsaan Timur tidaklah terlalu jauh, sekitar 3 km. Sesampainya mereka di rumah itu, alangkah kagetnya Ilyas karena mendapatkan tugas untuk menaikkan bendera pusaka diiringi lagu Indonesia Raya. Tugas menaikkan bendera pusaka itu ia lakukan tanpa latihan apa pun! Ini berbeda dengan para pengerek bendera pusaka di Istana Merdeka sekarang yang harus dilatih berminggu minggu. 

Ada suatu yang lucu saat penaikan bendera itu. “Saat itu,” kata Ilyas,”Lagu Indonesia Raya belum selesai, sementara bendera sudah mencapai ujung tiang bendera. Akhirnya Ilyas langsung saja mengikat tali bendera sampai lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan.” Ilyas memang secara kebetulan ditugaskan oleh Sudanco Latief agar berdua dengan Sudanco Singgih menjadi pengerek bendera pusaka. 

Pria kelahiran 13 Desember 1927 ini kini hidup di rumah sempit berukuran 50 meter persegi di pinggir rel kereta api di Jalan Rajawali Barat, Kalibata, Jakarta Selatan. Ia sudah beberapa kali tergusur. Sebelumnya, sebagai seorang perwira menengah dari jajaran Siliwangi, Ilyas pernah menempati rumah di Kompleks Siliwangi, Lapangan Banteng, yang kini menjadi Kompleks Kementerian Keuangan. 

Di masa lalu kompleks militer ini amatlah terkenal di antara anak-anak muda dengan kode 234 SC (Jie Sam Soe Siliwangi Club). Selain Ilyas Karim, memang ada orang lain yang mengaku sebagai pengibar bendera pusaka yang bercelana pendek seperti Sudaryoko atau Supriadi. 

Namun, Ilyas berani memastikan, dirinya adalah pengerek bendera pusaka bercelana pendek itu. Jika benar ia pengerek bendera pusaka pertama, hati kita tentunya amat terenyuh, mengapa nasibnya begitu kelam. 

Ilyas adalah satu contoh pahlawan yang terlupakan. Ada juga pahlawan-pahlawan lain yang diri atau keluarganya perlu mendapatkan perhatian, termasuk para tokoh masyarakat Irian Barat yang dulu menjadi pejuang Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Terlepas dari ada di antara mereka yang kemudian memberontak kepada Republik, pemberontakan itu hanyalah ungkapan kekecewaan mereka kepada pemerintah. 

Seperti diungkapkan almarhum Theys Hiyo Eluai kepada penulis lebih dari 20 tahun lalu. Dulu ia adalah seorang nasionalis anggota PNI. Tak heran jika di ruang tamu rumahnya terpampang foto Presiden Soekarno dan Presiden JF Kennedy, serta foto Megawati Soekarnoputri.

Saat penulis bertanya mengapa ia kemudian menjadi anggota DPRD Irian Jaya mewakili Golkar, Pace Theys tertawa terbahakbahak sambil mengatakan, “Itu demi kenyamanan politik saja. Hati saya tetap orang PDI.” Theys juga mengaku sebagai orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di wilayah Sentani. 

Lodewijk Mandatjan, tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) asal Arfak, juga pengibar bendera Merah Putih pertama di wilayah sekitar Manokwari. Hal yang sama dilakukan oleh Martin Indey, seorang nasionalis Indonesia asal Tabla Supa, Jayapura. Sampai sekarang nama Martin Indey tidak bisa diabadikan menjadi nama bandara Sentani seperti pernah diusulkan DPRD Jayapura puluhan tahun lalu.

Tokoh Ondoafi Sentani, almarhum Samuel Joku, yang penulis temui 24 tahun lalu, hanya mengatakan, “Bagaimana Martin bisa jadi pahlawan kalau selama menjadi mantri polisi di Sentani masa Belanda ia suka memukuli rakyat.” 

Sam Joku adalah ayah dari mantan “Menteri Luar Negeri” Presidium Dewan Papua (PDP), Franzalbert Joku, yang kini sudah menjadi warga negara Indonesia kembali dan menjadi salah satu calon yang bertarung untuk menjadi Bupati Jayapura. Martin Indey tidak menjadi nama bandara Sentani bukan karena masa lalunya sebagai mantri polisi, melainkan karena ia bukan orang Sentani. 

Masih banyak pahlawan-pahlawan yang terlupakan di negeri ini. Nama-nama mereka tak masuk dalam sejarah karena mereka hanyalah orangorang kecil dan bukan bagian dari elite politik nasional pada masanya.

Hingga kini memang masih ada jurang antara elite dan massa rakyat. Rakyat hanyalah pelaku sejarah yang terlupakan. Beginikah cara bangsa kita memperlakukan mereka? Kita lupa nasihat Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.” 

IKRAR NUSA BHAKTI 
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
 

Amburadul Republik Copyright © 2015 - |- Template Modified by A.M - |- Powered by Komunitas Blogger Madura